بسم الله ار حمن ار حيم
نر جد ءبرحيم
Banyak jalan menuju surga
Nur Jadi (snowbell)
Apa yang menjadi perdebatan pada
diriku, sedang tak dapat aku tafsirkan secara jelas dengan ilmu yang sefaqir
ini. Berjalan melintasi hari hari yang belum jelas kemana aku akhirnya,
terkadang membuatku padam dalam semangatku. Hingga saatnya aku tersadar,
ternyata masih banyak jalan untuk menempuh apa yang menjadi tujuan baikku pada
akhirnya nanti. Berlalu dari hari kehari, waktu kewaktu dan masa kemasa, aku
baru sadar bahwa aku belum sempat terbangun dari mimpi burukku yang kemarin.
Terasa saat ini aku masih mengigau dan masih menjalani mimpi mimpi yang menjadi
bunga tidurku yang panjang. Tak seperti anggapan mereka para filosofi kehidupan
yang menganggap hari ini adalah hari ini, dan esok itu masih jauh kedepan. Lain
halnya dengan diriku, aku heran dan menganggap bahwa apa yang kulakukan hari
ini masih lanjutan dari hari yang lalu yang belum sempat kurubah menjadi lebih
baik dari hari kemarin. Dan sebagian yang kulakukan hari ini adalah setengah
dari masa depan yang akan kujalani berikutnya. Dan aku sadar bahwa aku belum
sadar dari mimpi burukku yang kemarin.
Kudiamkan langkahku yang kian
bersinggungan ke jalan yang tak aku inginkan , kuhentikan nafasku selama
beberapa detik untuk mempelajari bagaimana kehidupan berlangsung tanpa
ketergantungan dan kututup mataku untuk menghindari hal yang tak sebaiknya aku
lihat serta mengendalikan pendengaranku dan tindakan yang akan aku
pertimbangkan terhadap apa yang akan aku dapatkan nanti.
Sejenak aku terdiam di balik pintu rumah yang kuanggap itu istana,
bercorakkan aliran sungai yang begitu jernih untuk menjernihkan pikiranku dalam
angan angan yang sempat membawaku ke dalam hal yang tak akan aku lupakan, dan
hal yang tak seharusnya aku lakukan. Hingga aku dapatkan bagaimana solusi
terbaik yang akan kubuatkan untuk hidupku. Walau tak kutahu entah dari mana aku
harus mulai dan dari apa yang harus aku ubah terlebih dahulu.
Sekilas angin membawa suara yang
senyap senyap melewati indraku yang peka. Ternyata seruanNya hendak mengantarkan
aku kepada rumah yang penuh dengan ketenangan. Aku bergegas hendak menuju suara
yang merdu itu. Dan aku membasuh raga ini untuk melepaskan segenap kotoran yang
dilakukan oleh setiap indraku, yang aku lakukan hari ini, detik ini dan selama
hidup ini. Kurasakan betapa sejuknya kehidupan yang dilalui dengan keikhlasan
dan kepasrahan kepada Sang Pencipta yang Maha Agung. Dalam senyap senyap, orang
yang berlalu lalang terlihat ramah dan saling menyapa lewat keagungan dan
kenikmatan yang diberikan kepadanya.
Di balik redupnya lampu yang
bercahaya, seraya mereka menengadahkan tangan sambil menyebut sesuatu yang
dalam hati mereka penuh dengan harapan, yang seolah olah membuatnya tenang dan
berdamai dengan alam.
Tak ada yang datang dan tak ada
lagi yang pulang dengan tangan dan harapan hampa , sejenak terbekali dengan
sunnah dan amanah untuk tetap tegar, dalam spasi kehidupan yang sementara.
Suara langkah kaki dan alunan merdu suara tilawah, mengajarkan aku bagaimana
bedanya nikmat kehidupan diantara setiap manusia. Sampai aku luangkan waktu
untuk sujud bertobat dalam waktu yang tak sebanding, dengan saat melakukan
maksiat yang belum kukenal. Apakah itu dosa besar atau hal yang tak senonoh
dengan aturan hukum kehidupan yang telah diatur, dalam sebuah kitab panutan.
Maka aku hanya bisa meneteskan air mata yang belum dapat aku anggap sebagai
pelepas dosa yang telah ada sejak dahulu. Sampai aku terdiam dan memohon
seperti mereka yang tengah dalam penantian dari doa yang telah tersiratkan.
Sejengkal matahari telah terbit ,
tiada lain , aku hanya luangkan waktu untuk kesibukan yang sudah setiap hari
aku jalani. Satu yang beda, bahwa aku bangun tepat waktu pada hari ini. Masih
tak ada yang bisa aku anggap sebagai perubahan dari hari hari yang lalu,
ternyata aku masih lalai dari janji yang aku tekankan pada diri sendiri. Amanah
yang aku tegaskan ternyata masih membawaku lalai kepada hal yang membuatku
menyesal.
Satu kata motivasi yang aku
terima, bahwa apa yang aku lakukan hari ini adalah penentu masa depan yang akan
aku jalani. Langkah yang baik hari ini dengan menanam benih yang baik akan
memberikan hasil yang baik pula nantinya. Keterbatasan dari sebuah tindakan
adalah hal biasa yang ada pada setiap orang , tapi dengan usaha yang kau pupuk
dengan bara semangat dan kemauan yang besar , tidaklah setiap halangan menjadi
sesuatu yang berarti bagi setiap kegagalan melainkan sebagai hal baru untuk
terjalinnya sebuah benang penguat mental untuk hal yang lebih besar.
Melangkah lagi dengan pola yang
sama adalah suatu kelemahan besar, keputusan yang aku ambil aku yakin inilah
yang terbaik, dan tuhan telah menitipkan amanah ini untuk sebuah hal besar yang
bisa aku lakukan nantinya. Maka mulai hari ini , ikhlas dan berpasrah bukanlah
hal utama yang harus aku tanamkan , tetapi pola pemikiran baru yang lebih baik
dan usaha yang lebih adalah 60% dari setiap hasil yang akan datang nantinya.
Berubah adalah hal baik , jika
mengarah ke hal yang baik.
Dari sekian persen makhluk yang
hidup hanya sekian yang akhirnya sukses, hanya sekian yang akhirnya bahagia,
hanya sekian yang bahagia dan sukses. Di akhirat pun yang kita yakini ada, hanya
sekian persen yang mampu menempati tempat yang betul betul ada dalam keridhoan
NYA. Sampai pernah keputus asaan merenggut bahwa setiap kesalahan dan hari hari
yang aku sisakan, hanyalah penantian belaka yang hanya akan berakhir pada kesengsaraan.
Kajian, tarbiyah dan segala hal
tentang pengembangan keimanan telah membawaku kepada kesadaran bahwa hidup ini
tidaklah sempit, sesempit dari pemikiranku selama ini. Sering aku dengar bahwa langkahku menuju hal
demikian dalam keridoan yang betul ada dan menambah kebaikan yang sudah
dijanjikan. Akupun terpaut dalam ritme yang telah kujadwalkan untuk hal
demikian .
Birunya langit dan hijaunya alam
serta terangnya cahaya adalah sekian kecil dari tanda kebesaran yang aku
agungkan. Dan diantara itu ternyata Tuhan telah menjajikan bahwa setiap tujuan
yang akan kita pusatkan tidaklah pada satu jalan saja, melainkan dari satu itu
ada sekitar ribuan dan tak terhitung jumlahnya.
Hari ini aku hanya berkelakar
dalam waktu yang begitu luas untuk aku jalani , menulis harapan dalam waktu
yang cukup lama aku nantikan. Berbagi dan meninggalkan jejakku di setiap
harinya meski itu aku tahu bahwa tak sesuai dengan apa yang aku inginkan
kemarinnya.
“Banyak jalan menuju syurga”
mungkin hari ini kau menulis sesuatu yang fenomenal menurutku, walaupun
sebenarnya sudah menjadi hal yang tabuh bagi kebanyakan pendengaran seseorang.
......(Bersambung)