Minggu, 23 Oktober 2016

جنة ال فردؤسBanyak jalan menuju surga

 بسم الله ار حمن ار حيم
نر جد ءبرحيم
Banyak jalan menuju surga

Nur Jadi (snowbell)

Apa yang menjadi perdebatan pada diriku, sedang tak dapat aku tafsirkan secara jelas dengan ilmu yang sefaqir ini. Berjalan melintasi hari hari yang belum jelas kemana aku akhirnya, terkadang membuatku padam dalam semangatku. Hingga saatnya aku tersadar, ternyata masih banyak jalan untuk menempuh apa yang menjadi tujuan baikku pada akhirnya nanti. Berlalu dari hari kehari, waktu kewaktu dan masa kemasa, aku baru sadar bahwa aku belum sempat terbangun dari mimpi burukku yang kemarin. Terasa saat ini aku masih mengigau dan masih menjalani mimpi mimpi yang menjadi bunga tidurku yang panjang. Tak seperti anggapan mereka para filosofi kehidupan yang menganggap hari ini adalah hari ini, dan esok itu masih jauh kedepan. Lain halnya dengan diriku, aku heran dan menganggap bahwa apa yang kulakukan hari ini masih lanjutan dari hari yang lalu yang belum sempat kurubah menjadi lebih baik dari hari kemarin. Dan sebagian yang kulakukan hari ini adalah setengah dari masa depan yang akan kujalani berikutnya. Dan aku sadar bahwa aku belum sadar dari mimpi burukku yang kemarin.

Kudiamkan langkahku yang kian bersinggungan ke jalan yang tak aku inginkan , kuhentikan nafasku selama beberapa detik untuk mempelajari bagaimana kehidupan berlangsung tanpa ketergantungan dan kututup mataku untuk menghindari hal yang tak sebaiknya aku lihat serta mengendalikan pendengaranku dan tindakan yang akan aku pertimbangkan terhadap apa yang akan aku dapatkan nanti.

Sejenak aku terdiam di balik  pintu rumah yang kuanggap itu istana, bercorakkan aliran sungai yang begitu jernih untuk menjernihkan pikiranku dalam angan angan yang sempat membawaku ke dalam hal yang tak akan aku lupakan, dan hal yang tak seharusnya aku lakukan. Hingga aku dapatkan bagaimana solusi terbaik yang akan kubuatkan untuk hidupku. Walau tak kutahu entah dari mana aku harus mulai dan dari apa yang harus aku ubah terlebih dahulu.

Sekilas angin membawa suara yang senyap senyap melewati indraku yang peka. Ternyata seruanNya hendak mengantarkan aku kepada rumah yang penuh dengan ketenangan. Aku bergegas hendak menuju suara yang merdu itu. Dan aku membasuh raga ini untuk melepaskan segenap kotoran yang dilakukan oleh setiap indraku, yang aku lakukan hari ini, detik ini dan selama hidup ini. Kurasakan betapa sejuknya kehidupan yang dilalui dengan keikhlasan dan kepasrahan kepada Sang Pencipta yang Maha Agung. Dalam senyap senyap, orang yang berlalu lalang terlihat ramah dan saling menyapa lewat keagungan dan kenikmatan yang diberikan kepadanya.

Di balik redupnya lampu yang bercahaya, seraya mereka menengadahkan tangan sambil menyebut sesuatu yang dalam hati mereka penuh dengan harapan, yang seolah olah membuatnya tenang dan berdamai dengan alam.

Tak ada yang datang dan tak ada lagi yang pulang dengan tangan dan harapan hampa , sejenak terbekali dengan sunnah dan amanah untuk tetap tegar, dalam spasi kehidupan yang sementara. Suara langkah kaki dan alunan merdu suara tilawah, mengajarkan aku bagaimana bedanya nikmat kehidupan diantara setiap manusia. Sampai aku luangkan waktu untuk sujud bertobat dalam waktu yang tak sebanding, dengan saat melakukan maksiat yang belum kukenal. Apakah itu dosa besar atau hal yang tak senonoh dengan aturan hukum kehidupan yang telah diatur, dalam sebuah kitab panutan. Maka aku hanya bisa meneteskan air mata yang belum dapat aku anggap sebagai pelepas dosa yang telah ada sejak dahulu. Sampai aku terdiam dan memohon seperti mereka yang tengah dalam penantian dari doa yang telah tersiratkan.

Sejengkal matahari telah terbit , tiada lain , aku hanya luangkan waktu untuk kesibukan yang sudah setiap hari aku jalani. Satu yang beda, bahwa aku bangun tepat waktu pada hari ini. Masih tak ada yang bisa aku anggap sebagai perubahan dari hari hari yang lalu, ternyata aku masih lalai dari janji yang aku tekankan pada diri sendiri. Amanah yang aku tegaskan ternyata masih membawaku lalai kepada hal yang membuatku menyesal. 

Satu kata motivasi yang aku terima, bahwa apa yang aku lakukan hari ini adalah penentu masa depan yang akan aku jalani. Langkah yang baik hari ini dengan menanam benih yang baik akan memberikan hasil yang baik pula nantinya. Keterbatasan dari sebuah tindakan adalah hal biasa yang ada pada setiap orang , tapi dengan usaha yang kau pupuk dengan bara semangat dan kemauan yang besar , tidaklah setiap halangan menjadi sesuatu yang berarti bagi setiap kegagalan melainkan sebagai hal baru untuk terjalinnya sebuah benang penguat mental untuk hal yang lebih besar.

Melangkah lagi dengan pola yang sama adalah suatu kelemahan besar, keputusan yang aku ambil aku yakin inilah yang terbaik, dan tuhan telah menitipkan amanah ini untuk sebuah hal besar yang bisa aku lakukan nantinya. Maka mulai hari ini , ikhlas dan berpasrah bukanlah hal utama yang harus aku tanamkan , tetapi pola pemikiran baru yang lebih baik dan usaha yang lebih adalah 60% dari setiap hasil yang akan datang nantinya.

Berubah adalah hal baik , jika mengarah ke hal yang baik.
Dari sekian persen makhluk yang hidup hanya sekian yang akhirnya sukses, hanya sekian yang akhirnya bahagia, hanya sekian yang bahagia dan sukses. Di akhirat pun yang kita yakini ada, hanya sekian persen yang mampu menempati tempat yang betul betul ada dalam keridhoan NYA. Sampai pernah keputus asaan merenggut bahwa setiap kesalahan dan hari hari yang aku sisakan, hanyalah penantian belaka yang hanya akan berakhir pada kesengsaraan. 

Kajian, tarbiyah dan segala hal tentang pengembangan keimanan telah membawaku kepada kesadaran bahwa hidup ini tidaklah sempit, sesempit dari pemikiranku selama ini.  Sering aku dengar bahwa langkahku menuju hal demikian dalam keridoan yang betul ada dan menambah kebaikan yang sudah dijanjikan. Akupun terpaut dalam ritme yang telah kujadwalkan untuk hal demikian .

Birunya langit dan hijaunya alam serta terangnya cahaya adalah sekian kecil dari tanda kebesaran yang aku agungkan. Dan diantara itu ternyata Tuhan telah menjajikan bahwa setiap tujuan yang akan kita pusatkan tidaklah pada satu jalan saja, melainkan dari satu itu ada sekitar ribuan dan tak terhitung jumlahnya. 

Hari ini aku hanya berkelakar dalam waktu yang begitu luas untuk aku jalani , menulis harapan dalam waktu yang cukup lama aku nantikan. Berbagi dan meninggalkan jejakku di setiap harinya meski itu aku tahu bahwa tak sesuai dengan apa yang aku inginkan kemarinnya.

“Banyak jalan menuju syurga” mungkin hari ini kau menulis sesuatu yang fenomenal menurutku, walaupun sebenarnya sudah menjadi hal yang tabuh bagi kebanyakan pendengaran seseorang.

......(Bersambung)

Minggu, 16 Oktober 2016

Banyak Jalan Menuju Surga



Banyak jalan menuju surga

Nur Jadi (snowbell)

Apa yang menjadi perdebatan pada diriku, sedang tak dapat aku tafsirkan secara jelas dengan ilmu yang sefaqir ini. Berjalan melintasi hari hari yang belum jelas kemana aku akhirnya, terkadang membuatku padam dalam semangatku. Hingga saatnya aku tersadar, ternyata masih banyak jalan untuk menempuh apa yang menjadi tujuan baikku pada akhirnya nanti. Berlalu dari hari kehari, waktu kewaktu dan masa kemasa, aku baru sadar bahwa aku belum sempat terbangun dari mimpi burukku yang kemarin. Terasa saat ini aku masih mengigau dan masih menjalani mimpi mimpi yang menjadi bunga tidurku yang panjang. Tak seperti anggapan mereka para filosofi kehidupan yang menganggap hari ini adalah hari ini, dan esok itu masih jauh kedepan. Lain halnya dengan diriku, aku heran dan menganggap bahwa apa yang kulakukan hari ini masih lanjutan dari hari yang lalu yang belum sempat kurubah menjadi lebih baik dari hari kemarin. Dan sebagian yang kulakukan hari ini adalah setengah dari masa depan yang akan kujalani berikutnya. Dan aku sadar bahwa aku belum sadar dari mimpi burukku yang kemarin.
Kudiamkan langkahku yang kian bersinggungan ke jalan yang tak aku inginkan , kuhentikan nafasku selama beberapa detik untuk mempelajari bagaimana kehidupan berlangsung tanpa ketergantungan dan kututup mataku untuk menghindari hal yang tak sebaiknya aku lihat serta mengendalikan pendengaranku dan tindakan yang akan aku pertimbangkan terhadap apa yang akan aku dapatkan nanti.
Sejenak aku terdiam di balik  pintu rumah yang kuanggap itu istana, bercorakkan aliran sungai yang begitu jernih untuk menjernihkan pikiranku dalam angan angan yang sempat membawaku ke dalam hal yang tak akan aku lupakan, dan hal yang tak seharusnya aku lakukan. Hingga aku dapatkan bagaimana solusi terbaik yang akan kubuatkan untuk hidupku. Walau tak kutahu entah dari mana aku harus mulai dan dari apa yang harus aku ubah terlebih dahulu.
Sekilas angin membawa suara yang senyap senyap melewati indraku yang peka. Ternyata seruanNya hendak mengantarkan aku kepada rumah yang penuh dengan ketenangan. Aku bergegas hendak menuju suara yang merdu itu. Dan aku membasuh raga ini untuk melepaskan segenap kotoran yang dilakukan oleh setiap indraku, yang aku lakukan hari ini, detik ini dan selama hidup ini. Kurasakan betapa sejuknya kehidupan yang dilalui dengan keikhlasan dan kepasrahan kepada Sang Pencipta yang Maha Agung. Dalam senyap senyap, orang yang berlalu lalang terlihat ramah dan saling menyapa lewat keagungan dan kenikmatan yang diberikan kepadanya.
Di balik redupnya lampu yang bercahaya, seraya mereka menengadahkan tangan sambil menyebut sesuatu yang dalam hati mereka penuh dengan harapan, yang seolah olah membuatnya tenang dan berdamai dengan alam.
Tak ada yang datang dan tak ada lagi yang pulang dengan tangan dan harapan hampa , sejenak terbekali dengan sunnah dan amanah untuk tetap tegar, dalam spasi kehidupan yang sementara. Suara langkah kaki dan alunan merdu suara tilawah, mengajarkan aku bagaimana bedanya nikmat kehidupan diantara setiap manusia. Sampai aku luangkan waktu untuk sujud bertobat dalam waktu yang tak sebanding, dengan saat melakukan maksiat yang belum kukenal. Apakah itu dosa besar atau hal yang tak senonoh dengan aturan hukum kehidupan yang telah diatur, dalam sebuah kitab panutan. Maka aku hanya bisa meneteskan air mata yang belum dapat aku anggap sebagai pelepas dosa yang telah ada sejak dahulu. Sampai aku terdiam dan memohon seperti mereka yang tengah dalam penantian dari doa yang telah tersiratkan.

Sejengkal matahari telah terbit , tiada lain , aku hanya luangkan waktu untuk kesibukan yang sudah setiap hari aku jalani. Satu yang beda, bahwa aku bangun tepat waktu pada hari ini. Masih tak ada yang bisa aku anggap sebagai perubahan dari hari hari yang lalu, ternyata aku masih lalai dari janji yang aku tekankan pada diri sendiri. Amanah yang aku tegaskan ternyata masih membawaku lalai kepada hal yang membuatku menyesal.
Satu kata motivasi yang aku terima, bahwa apa yang aku lakukan hari ini adalah penentu masa depan yang akan aku jalani. Langkah yang baik hari ini dengan menanam benih yang baik akan memberikan hasil yang baik pula nantinya. Keterbatasan dari sebuah tindakan adalah hal biasa yang ada pada setiap orang , tapi dengan usaha yang kau pupuk dengan bara semangat dan kemauan yang besar , tidaklah setiap halangan menjadi sesuatu yang berarti bagi setiap kegagalan melainkan sebagai hal baru untuk terjalinnya sebuah benang penguat mental untuk hal yang lebih besar.
Melangkah lagi dengan pola yang sama adalah suatu kelemahan besar, keputusan yang aku ambil aku yakin inilah yang terbaik, dan tuhan telah menitipkan amanah ini untuk sebuah hal besar yang bisa aku lakukan nantinya. Maka mulai hari ini , ikhlas dan berpasrah bukanlah hal utama yang harus aku tanamkan , tetapi pola pemikiran baru yang lebih baik dan usaha yang lebih adalah 60% dari setiap hasil yang akan datang nantinya.
Berubah adalah hal baik , jika mengarah ke hal yang baik.
Dari sekian persen makhluk yang hidup hanya sekian yang akhirnya sukses, hanya sekian yang akhirnya bahagia, hanya sekian yang bahagia dan sukses. Di akhirat pun yang kita yakini ada, hanya sekian persen yang mampu menempati tempat yang betul betul ada dalam keridhoan NYA. Sampai pernah keputus asaan merenggut bahwa setiap kesalahan dan hari hari yang aku sisakan, hanyalah penantian belaka yang hanya akan berakhir pada kesengsaraan.
Kajian, tarbiyah dan segala hal tentang pengembangan keimanan telah membawaku kepada kesadaran bahwa hidup ini tidaklah sempit, sesempit dari pemikiranku selama ini.  Sering aku dengar bahwa langkahku menuju hal demikian dalam keridoan yang betul ada dan menambah kebaikan yang sudah dijanjikan. Akupun terpaut dalam ritme yang telah kujadwalkan untuk hal demikian .
Birunya langit dan hijaunya alam serta terangnya cahaya adalah sekian kecil dari tanda kebesaran yang aku agungkan. Dan diantara itu ternyata Tuhan telah menjajikan bahwa setiap tujuan yang akan kita pusatkan tidaklah pada satu jalan saja, melainkan dari satu itu ada sekitar ribuan dan tak terhitung jumlahnya.
Hari ini aku hanya berkelakar dalam waktu yang begitu luas untuk aku jalani , menulis harapan dalam waktu yang cukup lama aku nantikan. Berbagi dan meninggalkan jejakku di setiap harinya meski itu aku tahu bahwa tak sesuai dengan apa yang aku inginkan kemarinnya.
“Banyak jalan menuju syurga” mungkin hari ini kau menulis sesuatu yang fenomenal menurutku, walaupun sebenarnya sudah menjadi hal yang tabuh bagi kebanyakan pendengaran seseorang.
(Bersambung)