Minggu, 23 Oktober 2016

جنة ال فردؤسBanyak jalan menuju surga

 بسم الله ار حمن ار حيم
نر جد ءبرحيم
Banyak jalan menuju surga

Nur Jadi (snowbell)

Apa yang menjadi perdebatan pada diriku, sedang tak dapat aku tafsirkan secara jelas dengan ilmu yang sefaqir ini. Berjalan melintasi hari hari yang belum jelas kemana aku akhirnya, terkadang membuatku padam dalam semangatku. Hingga saatnya aku tersadar, ternyata masih banyak jalan untuk menempuh apa yang menjadi tujuan baikku pada akhirnya nanti. Berlalu dari hari kehari, waktu kewaktu dan masa kemasa, aku baru sadar bahwa aku belum sempat terbangun dari mimpi burukku yang kemarin. Terasa saat ini aku masih mengigau dan masih menjalani mimpi mimpi yang menjadi bunga tidurku yang panjang. Tak seperti anggapan mereka para filosofi kehidupan yang menganggap hari ini adalah hari ini, dan esok itu masih jauh kedepan. Lain halnya dengan diriku, aku heran dan menganggap bahwa apa yang kulakukan hari ini masih lanjutan dari hari yang lalu yang belum sempat kurubah menjadi lebih baik dari hari kemarin. Dan sebagian yang kulakukan hari ini adalah setengah dari masa depan yang akan kujalani berikutnya. Dan aku sadar bahwa aku belum sadar dari mimpi burukku yang kemarin.

Kudiamkan langkahku yang kian bersinggungan ke jalan yang tak aku inginkan , kuhentikan nafasku selama beberapa detik untuk mempelajari bagaimana kehidupan berlangsung tanpa ketergantungan dan kututup mataku untuk menghindari hal yang tak sebaiknya aku lihat serta mengendalikan pendengaranku dan tindakan yang akan aku pertimbangkan terhadap apa yang akan aku dapatkan nanti.

Sejenak aku terdiam di balik  pintu rumah yang kuanggap itu istana, bercorakkan aliran sungai yang begitu jernih untuk menjernihkan pikiranku dalam angan angan yang sempat membawaku ke dalam hal yang tak akan aku lupakan, dan hal yang tak seharusnya aku lakukan. Hingga aku dapatkan bagaimana solusi terbaik yang akan kubuatkan untuk hidupku. Walau tak kutahu entah dari mana aku harus mulai dan dari apa yang harus aku ubah terlebih dahulu.

Sekilas angin membawa suara yang senyap senyap melewati indraku yang peka. Ternyata seruanNya hendak mengantarkan aku kepada rumah yang penuh dengan ketenangan. Aku bergegas hendak menuju suara yang merdu itu. Dan aku membasuh raga ini untuk melepaskan segenap kotoran yang dilakukan oleh setiap indraku, yang aku lakukan hari ini, detik ini dan selama hidup ini. Kurasakan betapa sejuknya kehidupan yang dilalui dengan keikhlasan dan kepasrahan kepada Sang Pencipta yang Maha Agung. Dalam senyap senyap, orang yang berlalu lalang terlihat ramah dan saling menyapa lewat keagungan dan kenikmatan yang diberikan kepadanya.

Di balik redupnya lampu yang bercahaya, seraya mereka menengadahkan tangan sambil menyebut sesuatu yang dalam hati mereka penuh dengan harapan, yang seolah olah membuatnya tenang dan berdamai dengan alam.

Tak ada yang datang dan tak ada lagi yang pulang dengan tangan dan harapan hampa , sejenak terbekali dengan sunnah dan amanah untuk tetap tegar, dalam spasi kehidupan yang sementara. Suara langkah kaki dan alunan merdu suara tilawah, mengajarkan aku bagaimana bedanya nikmat kehidupan diantara setiap manusia. Sampai aku luangkan waktu untuk sujud bertobat dalam waktu yang tak sebanding, dengan saat melakukan maksiat yang belum kukenal. Apakah itu dosa besar atau hal yang tak senonoh dengan aturan hukum kehidupan yang telah diatur, dalam sebuah kitab panutan. Maka aku hanya bisa meneteskan air mata yang belum dapat aku anggap sebagai pelepas dosa yang telah ada sejak dahulu. Sampai aku terdiam dan memohon seperti mereka yang tengah dalam penantian dari doa yang telah tersiratkan.

Sejengkal matahari telah terbit , tiada lain , aku hanya luangkan waktu untuk kesibukan yang sudah setiap hari aku jalani. Satu yang beda, bahwa aku bangun tepat waktu pada hari ini. Masih tak ada yang bisa aku anggap sebagai perubahan dari hari hari yang lalu, ternyata aku masih lalai dari janji yang aku tekankan pada diri sendiri. Amanah yang aku tegaskan ternyata masih membawaku lalai kepada hal yang membuatku menyesal. 

Satu kata motivasi yang aku terima, bahwa apa yang aku lakukan hari ini adalah penentu masa depan yang akan aku jalani. Langkah yang baik hari ini dengan menanam benih yang baik akan memberikan hasil yang baik pula nantinya. Keterbatasan dari sebuah tindakan adalah hal biasa yang ada pada setiap orang , tapi dengan usaha yang kau pupuk dengan bara semangat dan kemauan yang besar , tidaklah setiap halangan menjadi sesuatu yang berarti bagi setiap kegagalan melainkan sebagai hal baru untuk terjalinnya sebuah benang penguat mental untuk hal yang lebih besar.

Melangkah lagi dengan pola yang sama adalah suatu kelemahan besar, keputusan yang aku ambil aku yakin inilah yang terbaik, dan tuhan telah menitipkan amanah ini untuk sebuah hal besar yang bisa aku lakukan nantinya. Maka mulai hari ini , ikhlas dan berpasrah bukanlah hal utama yang harus aku tanamkan , tetapi pola pemikiran baru yang lebih baik dan usaha yang lebih adalah 60% dari setiap hasil yang akan datang nantinya.

Berubah adalah hal baik , jika mengarah ke hal yang baik.
Dari sekian persen makhluk yang hidup hanya sekian yang akhirnya sukses, hanya sekian yang akhirnya bahagia, hanya sekian yang bahagia dan sukses. Di akhirat pun yang kita yakini ada, hanya sekian persen yang mampu menempati tempat yang betul betul ada dalam keridhoan NYA. Sampai pernah keputus asaan merenggut bahwa setiap kesalahan dan hari hari yang aku sisakan, hanyalah penantian belaka yang hanya akan berakhir pada kesengsaraan. 

Kajian, tarbiyah dan segala hal tentang pengembangan keimanan telah membawaku kepada kesadaran bahwa hidup ini tidaklah sempit, sesempit dari pemikiranku selama ini.  Sering aku dengar bahwa langkahku menuju hal demikian dalam keridoan yang betul ada dan menambah kebaikan yang sudah dijanjikan. Akupun terpaut dalam ritme yang telah kujadwalkan untuk hal demikian .

Birunya langit dan hijaunya alam serta terangnya cahaya adalah sekian kecil dari tanda kebesaran yang aku agungkan. Dan diantara itu ternyata Tuhan telah menjajikan bahwa setiap tujuan yang akan kita pusatkan tidaklah pada satu jalan saja, melainkan dari satu itu ada sekitar ribuan dan tak terhitung jumlahnya. 

Hari ini aku hanya berkelakar dalam waktu yang begitu luas untuk aku jalani , menulis harapan dalam waktu yang cukup lama aku nantikan. Berbagi dan meninggalkan jejakku di setiap harinya meski itu aku tahu bahwa tak sesuai dengan apa yang aku inginkan kemarinnya.

“Banyak jalan menuju syurga” mungkin hari ini kau menulis sesuatu yang fenomenal menurutku, walaupun sebenarnya sudah menjadi hal yang tabuh bagi kebanyakan pendengaran seseorang.

......(Bersambung)

Minggu, 16 Oktober 2016

Banyak Jalan Menuju Surga



Banyak jalan menuju surga

Nur Jadi (snowbell)

Apa yang menjadi perdebatan pada diriku, sedang tak dapat aku tafsirkan secara jelas dengan ilmu yang sefaqir ini. Berjalan melintasi hari hari yang belum jelas kemana aku akhirnya, terkadang membuatku padam dalam semangatku. Hingga saatnya aku tersadar, ternyata masih banyak jalan untuk menempuh apa yang menjadi tujuan baikku pada akhirnya nanti. Berlalu dari hari kehari, waktu kewaktu dan masa kemasa, aku baru sadar bahwa aku belum sempat terbangun dari mimpi burukku yang kemarin. Terasa saat ini aku masih mengigau dan masih menjalani mimpi mimpi yang menjadi bunga tidurku yang panjang. Tak seperti anggapan mereka para filosofi kehidupan yang menganggap hari ini adalah hari ini, dan esok itu masih jauh kedepan. Lain halnya dengan diriku, aku heran dan menganggap bahwa apa yang kulakukan hari ini masih lanjutan dari hari yang lalu yang belum sempat kurubah menjadi lebih baik dari hari kemarin. Dan sebagian yang kulakukan hari ini adalah setengah dari masa depan yang akan kujalani berikutnya. Dan aku sadar bahwa aku belum sadar dari mimpi burukku yang kemarin.
Kudiamkan langkahku yang kian bersinggungan ke jalan yang tak aku inginkan , kuhentikan nafasku selama beberapa detik untuk mempelajari bagaimana kehidupan berlangsung tanpa ketergantungan dan kututup mataku untuk menghindari hal yang tak sebaiknya aku lihat serta mengendalikan pendengaranku dan tindakan yang akan aku pertimbangkan terhadap apa yang akan aku dapatkan nanti.
Sejenak aku terdiam di balik  pintu rumah yang kuanggap itu istana, bercorakkan aliran sungai yang begitu jernih untuk menjernihkan pikiranku dalam angan angan yang sempat membawaku ke dalam hal yang tak akan aku lupakan, dan hal yang tak seharusnya aku lakukan. Hingga aku dapatkan bagaimana solusi terbaik yang akan kubuatkan untuk hidupku. Walau tak kutahu entah dari mana aku harus mulai dan dari apa yang harus aku ubah terlebih dahulu.
Sekilas angin membawa suara yang senyap senyap melewati indraku yang peka. Ternyata seruanNya hendak mengantarkan aku kepada rumah yang penuh dengan ketenangan. Aku bergegas hendak menuju suara yang merdu itu. Dan aku membasuh raga ini untuk melepaskan segenap kotoran yang dilakukan oleh setiap indraku, yang aku lakukan hari ini, detik ini dan selama hidup ini. Kurasakan betapa sejuknya kehidupan yang dilalui dengan keikhlasan dan kepasrahan kepada Sang Pencipta yang Maha Agung. Dalam senyap senyap, orang yang berlalu lalang terlihat ramah dan saling menyapa lewat keagungan dan kenikmatan yang diberikan kepadanya.
Di balik redupnya lampu yang bercahaya, seraya mereka menengadahkan tangan sambil menyebut sesuatu yang dalam hati mereka penuh dengan harapan, yang seolah olah membuatnya tenang dan berdamai dengan alam.
Tak ada yang datang dan tak ada lagi yang pulang dengan tangan dan harapan hampa , sejenak terbekali dengan sunnah dan amanah untuk tetap tegar, dalam spasi kehidupan yang sementara. Suara langkah kaki dan alunan merdu suara tilawah, mengajarkan aku bagaimana bedanya nikmat kehidupan diantara setiap manusia. Sampai aku luangkan waktu untuk sujud bertobat dalam waktu yang tak sebanding, dengan saat melakukan maksiat yang belum kukenal. Apakah itu dosa besar atau hal yang tak senonoh dengan aturan hukum kehidupan yang telah diatur, dalam sebuah kitab panutan. Maka aku hanya bisa meneteskan air mata yang belum dapat aku anggap sebagai pelepas dosa yang telah ada sejak dahulu. Sampai aku terdiam dan memohon seperti mereka yang tengah dalam penantian dari doa yang telah tersiratkan.

Sejengkal matahari telah terbit , tiada lain , aku hanya luangkan waktu untuk kesibukan yang sudah setiap hari aku jalani. Satu yang beda, bahwa aku bangun tepat waktu pada hari ini. Masih tak ada yang bisa aku anggap sebagai perubahan dari hari hari yang lalu, ternyata aku masih lalai dari janji yang aku tekankan pada diri sendiri. Amanah yang aku tegaskan ternyata masih membawaku lalai kepada hal yang membuatku menyesal.
Satu kata motivasi yang aku terima, bahwa apa yang aku lakukan hari ini adalah penentu masa depan yang akan aku jalani. Langkah yang baik hari ini dengan menanam benih yang baik akan memberikan hasil yang baik pula nantinya. Keterbatasan dari sebuah tindakan adalah hal biasa yang ada pada setiap orang , tapi dengan usaha yang kau pupuk dengan bara semangat dan kemauan yang besar , tidaklah setiap halangan menjadi sesuatu yang berarti bagi setiap kegagalan melainkan sebagai hal baru untuk terjalinnya sebuah benang penguat mental untuk hal yang lebih besar.
Melangkah lagi dengan pola yang sama adalah suatu kelemahan besar, keputusan yang aku ambil aku yakin inilah yang terbaik, dan tuhan telah menitipkan amanah ini untuk sebuah hal besar yang bisa aku lakukan nantinya. Maka mulai hari ini , ikhlas dan berpasrah bukanlah hal utama yang harus aku tanamkan , tetapi pola pemikiran baru yang lebih baik dan usaha yang lebih adalah 60% dari setiap hasil yang akan datang nantinya.
Berubah adalah hal baik , jika mengarah ke hal yang baik.
Dari sekian persen makhluk yang hidup hanya sekian yang akhirnya sukses, hanya sekian yang akhirnya bahagia, hanya sekian yang bahagia dan sukses. Di akhirat pun yang kita yakini ada, hanya sekian persen yang mampu menempati tempat yang betul betul ada dalam keridhoan NYA. Sampai pernah keputus asaan merenggut bahwa setiap kesalahan dan hari hari yang aku sisakan, hanyalah penantian belaka yang hanya akan berakhir pada kesengsaraan.
Kajian, tarbiyah dan segala hal tentang pengembangan keimanan telah membawaku kepada kesadaran bahwa hidup ini tidaklah sempit, sesempit dari pemikiranku selama ini.  Sering aku dengar bahwa langkahku menuju hal demikian dalam keridoan yang betul ada dan menambah kebaikan yang sudah dijanjikan. Akupun terpaut dalam ritme yang telah kujadwalkan untuk hal demikian .
Birunya langit dan hijaunya alam serta terangnya cahaya adalah sekian kecil dari tanda kebesaran yang aku agungkan. Dan diantara itu ternyata Tuhan telah menjajikan bahwa setiap tujuan yang akan kita pusatkan tidaklah pada satu jalan saja, melainkan dari satu itu ada sekitar ribuan dan tak terhitung jumlahnya.
Hari ini aku hanya berkelakar dalam waktu yang begitu luas untuk aku jalani , menulis harapan dalam waktu yang cukup lama aku nantikan. Berbagi dan meninggalkan jejakku di setiap harinya meski itu aku tahu bahwa tak sesuai dengan apa yang aku inginkan kemarinnya.
“Banyak jalan menuju syurga” mungkin hari ini kau menulis sesuatu yang fenomenal menurutku, walaupun sebenarnya sudah menjadi hal yang tabuh bagi kebanyakan pendengaran seseorang.
(Bersambung)

Jumat, 23 September 2016

Mengolah Cara Pandang


Mengolah Cara Pandang

image  : fb thoi anh ay

 Cerita hidup terkadang tak sesuai yang kita harapkan dan terasa itu adalah sesuatu yang tak semestinya. Merujuk pada apa yang menjadi takdir hidup kita, memang terkadang kita berpikir bahwa itu terlalu berat. Padahal kita sendiri mengetahui bahwa cobaan yang datang tidak akan mungkin melebihi dari kesanggupan kita sendiri. Karena Tuhan itu maha adil. Kata tidak sanggup itu lebih kepada ketidakmampuan  kita sendiri untuk menjadikan apa yang datang kepada kita itu sebagai sesuatu bentuk yang merupakan tantangan baru untuk masa depan atau hari selanjutnya yang bisa menempa kita untuk menjadi lebih mandiri, berarti dan berkualitas serta untuk merubah mental kita menjadi kuat pada tantangan yang selanjutnya.
Kesanggupan terkadang menjadi pertanyakan pada diri sendiri, ketika ada suatu amanah yang dibebankan kepada kita. Kadangkala ada penolakan karena kita tidak sanggup, dan kadang menolak memang karena bukan potensi kita untuk itu, dan atau menolak karena merasa tak layak untuk mendapatkan amanah itu. Dari berbagai pengalaman yang saya dapatkan akhir akhir ini, pergantian pemimpin baik itu dalam suatu organisasi atau badan lainnya, saat mereka yang dianggap pantas untuk menjadi penerus, mereka malah menolak pada awalnya dengan alasan seperi tersebut diatas. Sebenarnya , memang kita juga tidak akan memilih yang sangat berkeinginan ataupun sangat tidak ingin, akan tetapi bagaimanapun juga dari kinerja yang terlihat selama kepengurusan itulah yang mejadi tolok ukur yang kita cari sebagai orang yang mampu membawa nama baik suatu badan itu kedepannya atau lebih mengembangkannya kearah baru yang lebih baik.Nah kesanggupan itu terkadang menjadi hambatan yang selalu hadir , mari kita ubah sedikit cara pandang. Orang lain percaya bahwa kita mampu untuk memegang itu, bagaimana kita tidak bisa menerimanya . Memangnya kita akan kerja sendiri? setelah diberikan itu, tidakkan? jadi buat apa menolak dengan berbagai macam alasan yang mungkin akan membuat orang lain kecewa terhadap kita. Namun bukan maksud bahwa kita juga harus terlalu percaya diri. tapi tidak lain setidaknya jangan membuat orang lain berpikir , wah pemikiran kita yang pesimis malah menurunkan kepercayaanmereka terhadap diri kita sendiri.
.......()

TERJEMAHAN SURAH AL BAQARAH AYAT 282



Chapter 1 Thai - ภาษาไทย

( 282 )   บรรดาผู้ศรัทธาทั้งหลาย! เมื่อพวกเจ้าต่างมีหนี้สินกันจะด้วยหนี้สินใด ๆก็ตาม จนกว่าจะถึงกำหนดเวลา(ใช้หนี้) ที่ถูกระบุไว้แล้ว ก็จงบันทึกหนี้สินนั้นเสีย และผู้เขียนก็จงบันทึกระหว่างพวกเจ้าด้วยความเที่ยงธรรม และผู้เขียนคนหนึ่งคนใดก็จงอย่าปฏิเสธที่จะบันทึก ดังที่อัลลอฮ์ได้ทรงสอนเขา ดังนั้นเขาจงบันทึกเถิด และจงให้ผู้ที่มีสิทะเหนือเขา(ลูกหนี้) บอกให้บันทึกและเขาจงยำเกรงอัลลอฮ์ผู้เป็นพระเจ้าของเขา และจงอย่าให้บกพร่องแต่อย่างใดจากสิทธินั้น และถ้าผู้มีสิทธิเหนือเขา(ลูกหนี้) เป็นคนโง่ หรือเป็นผู้อ่อนแอหรือไม่สามารถจะบอกให้บันทึกได้ ก็จงให้ผู้ปกครองของเขาบอกด้วยความเที่ยงธรรม และพวกเจ้าจงให้มีพยานขึ้นสองนายจากบรรดาผู้ชายในหมู่พวกเจ้า แต่ถ้ามิปรากฏว่า พยานทั้งสองนั้นเป็นชายก็ให้มีผู้ชายหนึ่งกับผู้หญิงสองคน จากผู้ที่พวกเจ้าพึงใจในหมู่พยานทั้งหลาย เพื่อว่าหญิงใดในสองคนนั้นหลงไป คนหนึ่งในสองคนนั้นก็จะได้เตือนอีกคนหนึ่ง และบรรดาพยานนั้นก็จงอย่าได้ปฏิเสธ เมื่อพวกเขาถูกเรียกร้อง และพวกเจ้าจงอย่าเบื่อหน่ายที่จะบันทึกหนี้สินนั้นไม่ว่าน้อยหรือมากก็ตาม จนกว่าจะถึงกำหนดเวลาของมัน นั่นแหละคือสิ่งที่ยุติธรรมยิ่งกว่า ณ ที่อัลลอฮ์ และเที่ยงตรงยิ่งกว่าสำหรับเป็นหลบักฐานยืนยัน และเป็นสิ่งใกล้ยิ่งกว่าที่พวกเจ้าจะไม่สงสัย นอกจากว่ามันเป็นสินค้าที่ปรากฏอยู่ต่อหน้า ซึ่งพวกเจ้าหมุนเวียนมัน (ซื้อขายแลกเปลี่ยน) ระหว่างพวกเจ้าก็ไม่มีโทษอันใดแก่พวกเจ้าที่พวกเจ้าจะไม่บันทึกมัน และพวกเจ้าจงให้มีพยานขึ้น เมื่อพวกเจ้าต่างซื้อขายกัน และผู้เขียนก็จงอย่าก่อให้เกิดความเดือดร้อนขึ้น และผู้เป็นพยานด้วย และหากว่าพวกเจ้ากระทำ แน่นอนมันก็เป็นการฝ่าฝืนเนื่องด้วยพวกเจ้า และพวกเจ้าจงพึงยำเกรงอัลลอฮ์เถิด และอัลลอฮ์นั้นทรงให้ความรู้แก่พวกเจ้าอยู่ และอัลลอฮ์นั้นทรงรอบรู้ในทุกสิ่งทุกอย่าง
Terjemah

Chapter 2 Indonesian - Bahasa Indonesia

( 282 )   Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu'amalahmu itu), kecuali jika mu'amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu
Terjemah

Chapter 3 Swedish - Bernström

( 282 )   TROENDE! När ni sinsemellan träffar avtal om lån med fastställd förfallotid, teckna då ned avtalet i skrift. Låt en skrivare noggrant skriva ned [vad som avtalats] mellan er. Ingen skrivare får undandra sig att skriva, såsom Gud har lärt honom. Låt honom alltså skriva och låt låntagaren diktera och, om han fruktar Gud, sin Herre, inte dra ifrån något [från sitt åtagande]. Om låntagaren är svag till förståndet eller sjuklig eller [annars] inte i stånd att diktera, låt då den som tillvaratar hans intressen diktera och undvika partiskhet. Och tag två av era män till vittnen; finns inte två män till hands, tag då en man och två kvinnor bland dem ni godkänner som vittnen - om någon av dem begår ett misstag kan då den andra påpeka det för henne. De som kallas till vittnen får inte undandra sig [sin plikt]. Tveka inte att skriva ned allt, både det mindre viktiga och det viktiga, och ange förfallotiden. Det är vad Gud [i Sin vishet] finner riktigast och skäligast, mest ändamålsenligt som bevis och bäst ägnat att bespara er all tvekan och osäkerhet [i framtiden]. Men om det är fråga om direkt överlåtelse från den ene till den andre av färdiga varor utan mellanhand, gör ni inte fel om ni underlåter att upprätta skriftligt avtal. När ni köper och säljer, låt det ske i vittnens närvaro, men varken skrivare eller vittnen får [utsättas för påtryckning eller] tillfogas skada - gör ni detta, begår ni en svår synd. Frukta Gud, som är er lärare. Gud har kunskap om allt.
Terjemah

Chapter 4 Россию - Кулиев

( 282 )   О те, которые уверовали! Если вы заключаете договор о долге на определенный срок, то записывайте его, и пусть писарь записывает его справедливо. Писарь не должен отказываться записать его так, как его научил Аллах. Пусть он пишет, и пусть берущий взаймы диктует и страшится Аллаха, своего Господа, и ничего не убавляет из него. А если берущий взаймы слабоумен, немощен или не способен диктовать самостоятельно, пусть его доверенное лицо диктует по справедливости. В качестве свидетелей призовите двух мужчин из вашего числа. Если не будет двух мужчин, то одного мужчину и двух женщин, которых вы согласны признать свидетелями, и если одна из них ошибется, то другая напомнит ей. Свидетели не должны отказываться, если их приглашают. Не тяготитесь записать договор, будь он большим или малым, вплоть до указания его срока. Так будет справедливее перед Аллахом, убедительнее для свидетельства и лучше для избежания сомнений. Но если вы заключаете наличную сделку и расплачиваетесь друг с другом на месте, то на вас не будет греха, если вы не запишите ее. Но призывайте свидетелей, если вы заключаете торговый договор, и не причиняйте вреда писарю и свидетелю. Если же вы поступите так, то совершите грех. Бойтесь Аллаха - Аллах обучает вас. Аллах ведает о всякой вещи.
Terjemah

Chapter 5 Português - El Hayek

( 282 )   Ó fiéis, quando contrairdes uma dívida por tempo fixo, documentai-a; e que um escriba, na vossa presença, ponha-afielmente por escrito; que nenhum escriba se negue a escrever, como Deus lhe ensinou. Que o devedor dite, e que tema aDeus, seu Senhor, e nada omita dele (o contrato). Porém, se o devedor for insensato, ou inapto, ou estiver incapacitado aditar, que seu procurador dite fielmente, por ele. Chamai duas testemunhas masculinas de vossa preferência, a fim de que, seuma delas se esquecer, a outra recordará. Que as testemunhas não se neguem, quando forem requisitadas. Não desdenheisdocumentar a dívida, seja pequena ou grande, até ao seu vencimento. Este proceder é o mais eqüitativo aos olhos de Deus, omais válido para o testemunho e o mais adequado para evitar dúvidas. Tratando-se de comércio determinado, feito de mãoem mão, não incorrereis em falta se não o documentardes. Apelai para testemunhas quando mercadejardes, e que o escriba eas testemunhas não seja coagidos; se os coagirdes, cometereis delito. Temei a Deus e Ele vos instruirá, porque é Onisciente.
Terjemah

Chapter 6 Chinese - Ma Jian

( 282 )   信道的人们啊!你们彼此间成立定期借贷的时候,你们应当写一张借券,请一个会写字的人,秉公代写。代书人不得拒绝,当遵照真主所教他的方法而书写。由债务者口授,(他口授时),当敬畏真主──他的主──不要减少债额一丝毫。如果债务者是愚蠢的,或老弱的,或不能亲自口授的,那末,叫他的监护人秉公地替他口授。你们当从你们的男人中邀请两个人作证;如果没有两个男人,那末,从你们所认可的证人中请一个男人和两个女人作证。这个女人遗忘的时候,那个女人可以提醒她。证人被邀请的时候,不得拒绝。无论债额多寡,不可厌烦,都要写在

Sumber : ayatulquran